Sekretaris Jenderal (Sekjen) Golkar Sarmuji merespons isu viral di media sosial yang menyebut ketua umum parpol terlibat penyadapan ilegal Presiden Prabowo Subianto. Golkar menyebut isu tersebut tak terkonfirmasi.
Dalam isu yang beredar tersebut, nama Ketum Golkar Bahlil Lahadalia turut dikaitkan.
"Sesuatu yang tidak bisa dikonfirmasi, sebenarnya tidak perlu dihiraukan," kata Sarmuji saat ditemui di DPP Golkar, Jakarta Barat, Jumat (6/11/2026).
Sarmuji mengingatkan, sebelumnya Bahlil juga pernah menjadi sasaran fitnah di media sosial. Namun isu itu juga tidak benar.
"Bahkan di podcast ada seorang ahli hukum bahkan, mengatakan, 'Ini A1! A1,' seolah-olah A1," katanya.
"Padahal partai besar itu kan, kalau kita boleh ngomong ada tiga saja. PDI, pemenang pemilu, Partai Golkar nomor dua, Partai Gerindra nomor tiga. Kalau ketua umum partai besar yang menganiaya pacarnya itu, harusnya tiga dari... satu dari tiga itu, ya," imbuh dia.
Sarmuji mengatakan, saat itu Bahlil menjadi sasaran satu-satunya dalam isu tersebut. Sebab semua narasi mengarah padanya.
"Kan nggak mungkin Bu Mega menganiaya pacarnya, kan. Pak Prabowo apalagi, enggak mungkin. Yang kemungkinan waktu itu spekulasinya kan ketua umum Partai Golkar, partai besar," ucap Sarmuji.
Setelah bergulir beberapa waktu, Sarmuji menyebut akhirnya isu soal itu terbukti hoaks. Ternyata, ketua umum yang melakukan kekerasan buka berasal dari Golkar.
"Ternyata kan hoaks. Ternyata yang menganiaya waktu itu, ternyata adalah partai yang tidak lolos dalam parlemen. Nah, bayangkan itu, dianggap partai besar. Nah, sekarang jangan-jangan juga gitu, 'Partai besar'. Partai besarnya siapa, kita enggak tahu," kata dia.
Sarmuji kembali menegaskan untuk menghiraukan informasi yang belum terkonfirmasi. Sebab itu akan merugikan.
"Dan sebenarnya hal yang seperti itu di-skip saja, karena tidak terkonfirmasi dan kebenarannya tidak bisa diverifikasi," katanya.