Jakarta (ANTARA) - Pernahkah Anda merasa mata mulai berat, menguap berkali-kali, bahkan hampir tertidur saat mendengarkan khotbah Jumat di masjid? Padahal, sebelumnya Anda merasa cukup segar dan tidak terlalu lelah. Kondisi ini mungkin terasa familiar bagi sebagian orang yang rutin menunaikan ibadah salat Jumat.
Rasa kantuk yang muncul saat Jumatan sebenarnya bisa dijelaskan melalui sejumlah faktor, mulai dari pola tidur, waktu biologis tubuh, kebiasaan makan siang, hingga suasana ketika mendengarkan khotbah.
Meski demikian, bukan berarti khotbah Jumat menjadi penyebab langsung rasa kantuk. Ada beberapa faktor yang bisa membuat seseorang lebih mudah mengantuk ketika duduk dan mendengarkan dalam waktu tertentu.
Lantas, mengapa rasa ngantuk kerap datang saat Jumatan? Berikut penjelasannya.
1. Jam biologis tubuh mengalami penurunan kewaspadaan
Salah satu penyebab rasa kantuk saat Jumatan adalah ritme sirkadian, yaitu jam biologis internal yang membantu mengatur siklus tidur dan bangun manusia.
Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), tubuh manusia secara alami dapat mengalami penurunan kewaspadaan pada siang hingga sore hari. Pada periode ini, dorongan untuk tidur bisa meningkat meskipun seseorang belum memasuki waktu tidur malam.
Fenomena tersebut dikenal sebagai afternoon dip atau penurunan kewaspadaan pada siang hari. Kondisi ini dapat terjadi bahkan ketika seseorang belum makan siang.
Karena salat Jumat umumnya dilaksanakan sekitar tengah hari, waktu pelaksanaannya dapat bertepatan dengan periode ketika tubuh mulai merasa lebih lelah dan mengantuk.
Namun, tingkat rasa kantuk setiap orang berbeda-beda, bergantung pada pola tidur, aktivitas, dan kondisi tubuh masing-masing.
2. Kurang tidur pada malam sebelumnya
Kebiasaan tidur terlalu larut juga bisa menjadi penyebab seseorang mudah mengantuk saat mendengarkan khotbah Jumat.
Ketika waktu tidur malam tidak mencukupi, tubuh mengumpulkan dorongan tidur yang semakin besar selama seseorang terjaga. Akibatnya, kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi dan kewaspadaan dapat menurun pada siang hari.
Misalnya, seseorang yang tidur larut karena bekerja, bermain gim, atau terlalu lama menggunakan ponsel mungkin masih merasa segar ketika bangun pagi. Namun, rasa kantuk bisa muncul beberapa jam kemudian, terutama ketika sedang duduk dalam suasana yang relatif tenang.
Jika kondisi tersebut terjadi berulang kali setiap Jumat, ada baiknya mengevaluasi kebiasaan tidur selama hari kerja maupun malam sebelumnya.
3. Perut kenyang setelah makan siang
Sebagian orang terbiasa makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid. Kebiasaan ini tidak menjadi masalah, tetapi rasa kantuk dapat terasa lebih kuat apabila waktu makan bertepatan dengan penurunan kewaspadaan alami tubuh.
Menurut Cleveland Clinic, rasa kantuk setelah makan atau postprandial somnolence dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk sinyal dari saluran pencernaan, perubahan zat metabolisme dalam darah, serta mekanisme otak yang mengatur kewaspadaan.
Porsi makan yang besar juga dapat membuat sebagian orang merasa lebih lesu setelah makan.
Karena itu, jika Anda sering merasa mengantuk saat Jumatan setelah makan siang, cobalah memperhatikan porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi. Makan secukupnya dan memilih menu seimbang dapat membantu mengurangi rasa terlalu kenyang.
Meski begitu, rasa kantuk setelah makan tidak semata-mata disebabkan oleh makanan. Jam biologis tubuh dan kualitas tidur juga berperan penting.
4. Duduk diam dalam waktu cukup lama
Saat mendengarkan khotbah Jumat, jamaah umumnya duduk dan memusatkan perhatian pada khatib. Aktivitas fisik yang minim membuat tubuh tidak mendapatkan banyak rangsangan gerak untuk mempertahankan rasa segar.
Berbeda dengan ketika berjalan, bekerja, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan gerakan, duduk diam dalam waktu cukup lama dapat membuat rasa lelah lebih terasa, terutama jika seseorang sebelumnya kurang tidur.
Selain itu, ketika seseorang tidak banyak bergerak dan berada dalam suasana yang tenang, tanda-tanda kantuk yang sebelumnya tidak terlalu terasa bisa menjadi lebih jelas.
Meski demikian, duduk diam bukan satu-satunya penyebab kantuk. Faktor seperti kurang tidur dan penurunan kewaspadaan pada siang hari tetap perlu diperhitungkan.
5. Suasana masjid yang tenang dan nyaman
Suasana masjid yang relatif tenang, posisi duduk yang nyaman, serta minimnya aktivitas fisik juga dapat membuat seseorang lebih menyadari rasa kantuk.
Ketika seseorang tidak sedang melakukan aktivitas yang menuntut banyak gerakan, mempertahankan perhatian dalam waktu lama bisa terasa lebih menantang, terlebih jika tubuh memang sedang lelah.
Namun, hal ini bukan berarti suasana tenang secara langsung membuat tubuh tertidur. Rasa kantuk lebih mungkin muncul ketika kondisi tersebut bertepatan dengan dorongan tidur yang sudah meningkat akibat kurang tidur atau ritme sirkadian.
Oleh karena itu, seseorang yang cukup tidur dan memiliki kondisi tubuh yang bugar belum tentu mengalami rasa kantuk yang sama meskipun berada dalam suasana serupa.