Politik

Dukung Menko Bahlil, ARF : Keuntungan SDA Harus Kembali ke Indonesia

Dukung Menko Bahlil, ARF : Keuntungan SDA Harus Kembali ke Indonesia

JAKARTA -- Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi, mendukung langkah Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang meminta ekspor sumber daya alam (SDA) Indonesia dilakukan langsung ke negara tujuan. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat kendali nasional terhadap perdagangan komoditas sekaligus membuka peluang peningkatan penerimaan negara.

Abdul Rahman mengatakan, Indonesia perlu mengoptimalkan keuntungan ekonomi dari kekayaan alam yang dimilikinya. Selama ini, manfaat perdagangan komoditas bukan hanya berasal dari nilai barang yang diekspor, melainkan juga berbagai kegiatan usaha yang menyertai proses transaksi internasional.

Menurutnya, keterlibatan negara perantara yang tidak memberikan nilai tambah berarti perlu dievaluasi agar Indonesia dapat memperoleh manfaat ekonomi lebih besar dari perdagangan sumber daya alamnya sendiri.

“Indonesia jangan hanya menjadi pemilik sumber daya alam, sementara negara lain menikmati keuntungan dari mata rantai perdagangannya. Kita harus memastikan kekayaan alam Indonesia memberikan manfaat ekonomi sebesar-besarnya bagi bangsa sendiri,” ujar Abdul Rahman dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Pernyataan itu disampaikan untuk merespons arahan Bahlil dalam pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Dalam forum tersebut, Bahlil meminta jajaran Kementerian ESDM memastikan pengiriman komoditas pertambangan dan energi ke pasar internasional tidak lagi bergantung pada negara perantara yang sekadar menjadi tempat transit atau pencatatan transaksi.

Bahlil mencontohkan perdagangan mineral dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dengan negara tujuan seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Menurutnya, pengiriman langsung perlu diprioritaskan agar Indonesia memiliki kendali lebih kuat atas rantai perdagangan komoditas strategis.

Nilai Ekspor Ratusan Miliar Dolar AS

Abdul Rahman menjelaskan, perdagangan internasional menghasilkan kegiatan ekonomi yang jauh lebih luas daripada transaksi jual beli barang.

Setiap pengiriman komoditas melibatkan sejumlah layanan, mulai dari transportasi laut, pergudangan, asuransi, pembiayaan perdagangan, hingga aktivitas kepelabuhanan.

Sektor-sektor tersebut memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan untuk memperbesar keterlibatan perusahaan nasional dalam rantai perdagangan global.

Ia menilai Indonesia perlu memperkuat kapasitas industri jasa pendukung ekspor agar keuntungan perdagangan tidak hanya dinikmati eksportir dan pembeli luar negeri, tetapi juga pelaku usaha domestik.

Besarnya potensi tersebut terlihat dari kinerja perdagangan nasional. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai 282,91 miliar dolar AS, meningkat 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas tercatat sebesar 269,84 miliar dolar AS.

Menurut Abdul Rahman, besarnya nilai perdagangan tersebut menunjukkan pentingnya memperluas manfaat ekonomi dari seluruh kegiatan yang terhubung dengan ekspor.

sumber : Antara