Teknologi

Terkuak, Begini Cara Hacker Curi Rp114 Triliun dari Binance

Terkuak, Begini Cara Hacker Curi Rp114 Triliun dari Binance
Jakarta, CNN Indonesia

Bursa mata uang , Binance, mengungkap cara hacker mencuri aset kripto senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 miliar, yakni menggunakan modus wawancara kerja palsu, malware dan alat berbasis teknologi  internal perusahaan.

Berdasarkan informasi terbaru yang dirilis Binance, peretas pertama kali mendapatkan akses ke sistem perusahaan pada musim panas.

Saat itu, seorang teknisi perusahaan tanpa sengaja mengunduh malware yang membuat identitas karyawan tersebut serta anggota tim lainnya terekspos. Tim tersebut diketahui bertanggung jawab untuk mengelola infrastruktur dompet kripto di Binance.

Selanjutnya, peretas berpura-pura menjadi direktur proyek menghubungi teknisi lain melalui platform pencarian kerja yang legal. Ia kemudian menyamar sebagai staf human resources (HR) pada wawancara video tahap pertama.

Wawancara tahap kedua dilakukan melalui aplikasi percakapan dengan pelaku yang mengaku sebagai CEO dari perusahaan fiktif. Dalam wawancara kedua ini, teknisi tersebut ditipu sehingga mengunduh malware ke komputernya.

Sebelumnya, Binance diretas melalui operasi yang dimulai pada Juni 2026. Serangan tersebut berlanjut dengan penipuan rekrutmen pada September.

Upaya ini kemudian berujung pada pembobolan hot wallet atau dompet digital yang terhubung ke internet pada pekan lalu. Binance mengatakan bahwa total US$6,34 miliar berhasil dikuras dari dompet kripto dalam serangan tersebut.

Pada 20 Oktober, pelaku dilaporkan menggunakan komputer yang telah disusupi serta alat AI internal untuk mengambil alih kendali sistem milik teknisi tersebut dan seorang pengembang dompet digital lainnya dalam tim yang sama.

Kemudian, pelaku menggunakan komputer milik pengembang kedua dengan memanfaatkan kredensial yang dicuri dari teknisi pertama. Pelaku lalu menjalankan skrip berbahaya untuk melancarkan serangan psfs 29 Oktober 2026.

"Hal ini seharusnya tidak terjadi, dan kami meminta maaf atas kekhawatiran, gangguan serta ketidakpastian yang ditimbulkan terhadap pengguna, mitra, dan industri secara lebih luas," kata Binance, dikutip dari The Guardian, Selasa (3/11).

FBI menuduh Korea Utara sebagai dalang di balik peretasan ini. Pasalnya, wawancara kerja menggunakan teknologi deepfake dikenal sebagai salah satu metode dalam persenjataan siber di negara tersebut.

Namun, biasanya metode tersebut digunakan dari sisi yang berlawanan, yaitu ketika tenaga profesional teknologi informasi (TI) palsu melamar pekerjaan untuk mengalirkan uang kembali ke Pyongyang.

Merespons tuduhan tersebut, pemerintah Korea Utara menyebut tuduhan ini sebagai "retorika yang tidak masuk akal". Hal ini disampaikan oleh Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Kim menilai tuduhan tersebut membuktikan bahwa Washington masih menunjukkan sikap permusuhan terhadap Pyongyang.

"FBI berupaya mencap DPRK (Republik Rakyat Demokratik Korea) sebagai 'negara pelaku kejahatan siber' dengan mengklaim telah memperoleh informasi bahwa organisasi peretas yang didukung oleh DPRK terlibat dalam insiden tersebut," ujar Kim yang dikutip dari kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA.

"Amerika Serikat melakukan provokasi politik serius terhadap DPRK dengan menyesatkan opini publik internasional seolah-olah seluruh kejahatan siber yang terjadi di berbagai belahan dunia merupakan perbuatan kami," tutup Kim.