Nasional

Sering Kebangun Tengah Malam karena Gerah? Bisa Jadi Kamu Korban Perubahan Iklim

Sering Kebangun Tengah Malam karena Gerah? Bisa Jadi Kamu Korban Perubahan Iklim

JAKARTA — Perubahan iklim selama ini sering kali hanya dipandang sebagai isu lingkungan hidup semata, seperti melelehnya es di kutub atau naiknya permukaan air laut. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah bergeser menjadi krisis kesehatan masyarakat yang nyata dan mendesak.

Cuaca ekstrem, lonjakan suhu malam hari, intensitas curah hujan yang tidak menentu, serta tingkat kelembapan yang fluktuatif kini membentuk ancaman baru bagi kesejahteraan fisik dan mental masyarakat di berbagai belahan dunia. Dampak dari fenomena ini tidak hanya terbatas pada masalah yang paling terlihat seperti sengatan panas (heatstroke). Ada serangkaian konsekuensi kesehatan tersembunyi yang perlahan namun pasti mulai menggerogoti kualitas hidup harian.

Gangguan tidur

Additional Director, Internal Medicine di Sir HN Reliance Foundation Hospital, Mumbai, India, dr Divya Gopal, mengatakan krisis iklim dapat memengaruhi tubuh manusia dari berbagai sisi yang jarang disadari. Salah satu dampak perubahan iklim yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari namun kerap diabaikan adalah meningkatnya suhu pada malam hari. Udara malam yang sejatinya menjadi waktu bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan energi kini justru terasa semakin panas dan gerah.

Perempuan bangun tidur (ilustrasi).
Perempuan bangun tidur (ilustrasi). - (Dok. Magnific)

Dia mengatakan suhu pada malam hari dapat secara signifikan memengaruhi kualitas dan durasi tidur. “Kurangnya tidur yang cukup berdampak pada kemampuan seseorang untuk fokus, memengaruhi sistem kekebalan tubuh, mengganggu tingkat hormon, dan menguras kesejahteraan mental. Kurang tidur kronis juga dapat berkontribusi pada kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi,” ujarnya dikutip dari laman Hindustan Times pada Jumat (6/11/2026). Ketika tidur terganggu secara terus-menerus, benteng pertahanan alami tubuh terhadap berbagai infeksi dan penyakit ikut melemah.

Tekanan berlebih pada jantung, ginjal, dan pernapasan

Bagi individu yang sudah memiliki riwayat penyakit tertentu, cuaca ekstrem akibat perubahan iklim bisa menjadi faktor pemicu komplikasi yang berbahaya. Cuaca panas yang menyengat memaksa organ vital seperti jantung dan ginjal bekerja jauh lebih keras dari biasanya.

"Orang yang hidup dengan hipertensi, penyakit jantung, gangguan ginjal, dan gagal jantung sangat rentan selama kondisi panas ekstrem. Beban kerja tambahan pada jantung, dikombinasikan dengan dehidrasi, dapat memperburuk masalah kesehatan yang sudah ada. Dehidrasi akibat panas juga dapat mengurangi aliran darah ke ginjal, sehingga memengaruhi fungsinya," ujar dr Gopal.

Serangan jantung (ilustrasi). Sebuah studi terbaru menemukan bahwa pasien yang mengalami serangan jantung memiliki kadar mikroplastik dan nanoplastik dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu sehat.
Kesehatan jantung (ilustrasi). - (Dok. Magnific)

Selain organ dalam, sistem pernapasan menjadi benteng pertama yang langsung terdampak oleh buruknya kualitas udara akibat krisis iklim. Polusi udara dan perubahan iklim merupakan dua hal yang saling berkaitan rapat. Dokter Gopal menjelaskan meningkatnya paparan debu, asap, serbuk sari, dan iritan bawaan udara lainnya dapat memicu gejala pernapasan, terutama bagi individu yang memang rentan terhadap asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta kondisi paru-paru lainnya.