Teknologi

Pakar Ungkap Dugaan Kesalahan Fatal Pilot dalam Tragedi Jet Florida

Pakar Ungkap Dugaan Kesalahan Fatal Pilot dalam Tragedi Jet Florida
Jakarta

Beberapa kesalahan fatal manusia (human error) mungkin menjadi penyebab kecelakaan mengerikan jet pribadi Learjet di Florida hari Minggu, menewaskan sembilan orang di dalamnya.

Pesawat nahas senilai USD 2 juta yang dalam perjalanan menuju Bahama dari Texas itu, terbang menembus badai ketika mendadak kehilangan daya angkat, kemungkinan di ketinggian antara 10.668 hingga 11.277 meter, dan menukik tajam sebelum jatuh dan meledak dekat sebuah taman karavan di Palm Beach County.

Pihak berwenang masih menyelidiki penyebabnya. Pakar penerbangan Justin Crabbe menilai pilot memilih menembus badai berbahaya, kemudian mencoba manuver menghindari berisiko yang mungkin membawa petaka.

"Mereka seharusnya memutar menghindari badai. Pengatur lalu lintas udara telah memberi mereka fleksibilitas untuk mengubah arah guna menghindari cuaca buruk itu," kata Crabbe, pilot veteran dan CEO Jettly, platform pemesanan penerbangan.

Crabbe tidak tahu mengapa para pilot tidak melakukannya, tapi menduga mereka ingin segera sampai. Di pesawat terdapat dua pilot dan penumpangnya yaitu seorang pengusaha teknologi, istrinya, dua anak mereka, dua teman dewasa, dan pengasuh anak.

"Itu adalah teori yang disebut 'get-there-itis' (sindrom memaksakan diri agar cepat sampai), dan sekolah penerbangan mengajarkan hal ini sejak awal," ungkap Crabbe.

Kopilot pesawat, Nathalia Filgueiras yang berusia 20 tahun, meminta dan mendapat izin di ketinggian 10.668 meter untuk naik ke 11.277 meter, di atas cuaca buruk, setelah melaporkan suhu udara di luar berada di bawah nol derajat dan es mulai terbentuk di lambung pesawat.

Es adalah berita buruk bagi pesawat. Lapisan es mengacaukan aliran udara sekitar sayap dan membuatnya lebih sulit tetap mengudara. Banyak pesawat dilengkapi alat penghilang es, tapi es dapat menumpuk sangat cepat dalam kondisi buruk. Pesawat Learjet dalam kecelakaan ini memiliki alat penghilang es.

Namun upaya terbang keluar dari bahaya mungkin akhirnya justru menghancurkan pesawat. "Mereka mencoba naik untuk mencari udara lebih cerah, yang mungkin menjadi salah satu faktor penyumbang yang mempercepat terjadinya stall," kata Crabbe yang dikutip detikINET dari NY Post.

Ketika hidung pesawat naik, itu meningkatkan "sudut serang" di mana sayap bertemu aliran udara yang datang. Saat sayap tertutup es, sayap harus bekerja lebih keras untuk mendapat daya angkat, dan sudut yang memicu pesawat mengalami stall jadi lebih rendah dari batas normal.

Crabbe mengatakan pada titik tersebut, pilot terjebak dua pilihan buruk: Naik dengan risiko stall atau menukik lebih jauh ke badai dengan risiko penumpukan es yang lebih parah.

Kecelakaan ini menewaskan pengusaha berusia 44 tahun Adam Robinson, istrinya Helen, dan anak mereka Emma (4) dan Charlie (2) serta teman mereka Rachael Reed dan Charmi Fehr, dan pengasuh Anita Maria Apellido Cetina.

Bahkan upaya terakhir jet tersebut untuk naik, seandainya berhasil, mungkin takkan memberikan banyak hasil. Pasalnya, pesawat itu terbang menembus sistem badai konvektif tidak biasa dengan ketinggian mencapai hampir 15.240 meter, menurut data NOAA.

"Ini seperti badai masalah sangat sempurna. Anda menghadapi turbulensi, menghadapi pembentukan es, menghadapi curah hujan. Dan Anda menghadapi badai petir sangat tinggi yang tampaknya terbentuk sangat cepat," kata pengacara penerbangan Zachary S. Gorwitz.

Begitu pesawat mulai menukik tajam, hanya sedikit yang bisa dilakukan pilot, terutama karena pesawat tersebut tampaknya mulai hancur sebelum membentur tanah.

"Pada titik tersebut, saya yakin pilot mencoba menarik mundur tuas kendali dan mengangkat hidung pesawat, tapi saya yakin pada kecepatan dan sudut itu, itu tak mungkin dilakukan," kata Gorwitz.

Apa pun penyebab kecelakaan, ia meragukan hal itu terkait faktor kopilot yang masih muda. "Fakta kopilot berusia 20 tahun ini yang berbicara di radio menunjukkan bahwa pilot utama yang memegang kendali," ujarnya.