Islam dan pemahaman tentang Islam adalah dua hal yang berbeda. Islam bersumber dari Allah SWT, sementara pemahaman tentang Islam bersumber dari manusia
Palu (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengatakan umat perlu penguatan literasi keagamaan yang utuh supaya tidak mudah terprovokasi terhadap tafsir melalui penggalan ayat Al Quran secara sepihak yang beredar luas di platform media sosial.
"Di era digital informasi apa saja dengan mudah diperoleh, termasuk memanfaatkan memenggal ayat-ayat Al Quran dan ditafsirkan secara sepihak untuk memprovokasi umat dengan tujuan tertentu," kata Ketua MUI Kota Palu Zainal Abidin di Palu, Kamis.
Ia mengingatkan umat bahwa Al Quran dan pemahaman manusia terhadap teks suci adalah dua entitas yang berbeda.
"Islam dan pemahaman tentang Islam adalah dua hal yang berbeda. Islam bersumber dari Allah SWT, sementara pemahaman tentang Islam bersumber dari manusia. Menghargai dan menghormati perbedaan menjadi solusinya," ucap Zainal Abidin.
Ia mengemukakan era digital menghadirkan tantangan tersendiri dimana siapapun dapat berbicara, mengakses terjemahan instan, hingga menyebarkan konten tafsir tanpa landasan metodologis yang memadai.
Kondisi ini sering kali memicu kebingungan di tengah masyarakat akibat munculnya penafsiran yang keliru, tema-tema provokatif, hingga pemotongan ayat tanpa konteks utuh yang berpotensi memecah belah persatuan.
Oleh karena itu ia menekankan bahwa penafsiran agama tidak boleh dilepaskan dari perangkat keilmuan yang sah, seperti tata Bahasa Arab, ulumul Quran, asbab nuzul, hingga merujuk pada pandangan para ulama dan mazhab yang diakui.
"Mazhab bukan agama, tetapi cara ulama dalam memahami teks ajaran agama (nash) dengan kapasitas ilmu yang mereka miliki," ucap Zainal yang juga Guru Besar UIN Datokarama Palu.
Ia juga mengingatkan umat senantiasa mengedepankan sikap moderat, menjunjung tinggi prinsip tabayyun atau mengecek kebenaran informasi dan menempatkan keragaman pemahaman sebagai kekayaan intelektual umat Islam, bukan sebagai sumber permusuhan.
Maka perbedaan tidak perlu dipaksakan harus sama, karena perbedaan datangnya dari sang Pencipta alam semesta Allah SWT.
"Imam masjid maupun ulama memiliki tanggung jawab membina umat untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, baik itu dalam majelis maupun dalam pertemuan lainnya, supaya umat memahami secara utuh hakekat beragama," kata Ketua MUI Palu Zainal Abidin.