Jakarta, CNBC Indonesia - Industri perusahaan pembiayaan atau multifinance di Indonesia menghadapi tantangan berat sepanjang 2026. Target pertumbuhan pembiayaan yang sebelumnya dipatok sebesar 6-8% terancam meleset jauh setelah realisasi hingga Agustus 2026 hanya mencapai 1,68% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengungkapkan, pertumbuhan industri multifinance sepanjang tahun ini bergerak cukup fluktuatif. Bahkan, pertumbuhannya sempat menyentuh kisaran 2%, tetapi belum mampu mendekati target yang ditetapkan pada awal tahun.
"Kalau kita kilas balik sedikit terkait dengan awal tahun 2026, kami dengan OJK sama-sama menargetkan ingin tumbuh sekitar 6-8%. Namun demikian, kita lihat dari awal tahun sampai dengan posisi Agustus 2026, pertumbuhan kita hanya 1,68%," ujar Suwandi kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/11/26).
Salah satu sektor yang menjadi sumber tekanan berasal dari pembiayaan investasi, terutama untuk kebutuhan alat berat di sektor pertambangan.
Aktivitas ekspansi perusahaan tambang belum berjalan optimal karena adanya ketidakpastian perizinan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Kondisi tersebut membuat perusahaan menahan pengeluaran modal atau capital expenditure (capex).
"Di pembiayaan investasi, para lessee atau debitur kita banyak yang menahan ekspansi untuk mengganti alat-alat beratnya. Pada awal tahun 2026, banyak kontraktor dan debitur yang ingin menambah atau mengganti alat beratnya, tetapi terhambat dengan perizinan RKAB," katanya.
Dampaknya terasa pada penyaluran pembiayaan investasi yang mengalami kontraksi secara tahunan. Kondisi ini mulai mendapat angin segar setelah perizinan RKAB untuk 2026 terbit pada kisaran Agustus-September. Namun, waktu yang tersisa hingga akhir tahun dinilai belum cukup untuk langsung mengerek pertumbuhan secara signifikan.
"Karena kehati-hatian tersebut, posisi pembiayaan investasi kita terjadi penurunan secara year-on-year, kontraksi sekitar 4-5%. Nah, izin RKAB ini baru terbit di kisaran Agustus-September untuk tahun 2026," ujar Suwandi.
Mobil Listrik Laku Keras, Multifinance Tak Dapat Durian Runtuh
Di sisi lain, pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor ternyata tidak otomatis mendongkrak pembiayaan multifinance. Perubahan perilaku konsumen dalam membeli kendaraan, khususnya mobil listrik, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyaluran kredit. Transaksi kendaraan bekas juga menghadapi kondisi serupa karena semakin banyak pembelian dilakukan secara tunai atau menggunakan pembiayaan dari lembaga keuangan lain.
"Setelah kita lakukan penelitian, ternyata tidak linear dengan kami karena banyak penjualan kendaraan EV. Rata-rata yang membeli kendaraan itu masih menggunakan dana tunainya sendiri atau cash basis. Untuk kendaraan bekas juga kami cek ke dealer dan showroom, ternyata penjualannya banyak cash," katanya.
Meski pertumbuhan pembiayaan melambat, industri multifinance masih mampu menjaga kualitas kredit. Perusahaan pembiayaan juga menghadapi situasi yang tidak mudah karena harus mempertahankan pertumbuhan sekaligus memastikan debitur tetap mampu membayar kewajibannya.
"Walaupun kita masih di bawah target sekitar 6-8%, pertumbuhan 2% ini masih bisa menjaga non-performing loan kita di angka 3%. Jadi, di tengah sulitnya bertumbuh dan menambah volume pembiayaan, kami terus menjaga kualitas aset produktif perusahaan pembiayaan," kata Suwandi.
Sebagai catatan, Gaikindo mencatat, penjualan wholesales mobil listrik nasional sepanjang Januari-September 2026 melonjak 113,7% menjadi 117.218 unit dibanding periode sama tahun 2025.
(dce)[Gambas:Video CNBC]