Warga Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat Marini membuat gerakan Bank Sampah Berdikari. Melalui program ini ia bisa menggandeng 500 warga untuk jadi nasabah dengan volume sampah yang dikumpulkan mencapai 1 ton sampah.
Dari total nasabah bank sampah, sebanyak 360 orang jadi nasabah aktif. Bank sampah yang dikelolanya beroperasi setiap hari tanpa libur, sama dengan produksi sampah warga.
Senin hingga Jumat bank sampah buka dari 09.00 WIB hingga 15.00 WIB. Sementara hari Sabtu-Minggu tutup lebih awal yakni pukul 12.00 WIB.
"kita melibatkan anak remaja dan [mereka] liburnya kan pada hari Sabtu-Minggu," kata Marini ketika menjalani tahap verifikasi lapangan Pilah Olah Sampah Heroes 2026 pada Kamis (5/11).
Marini menuturkan perjalanan Bank Sampah Berdikari dimulai sejak 19 Desember 2013. Berawal dari keresahannya terkait tumpukan sampah di wilayahnya.
"[Saya] melihat pembuangan sampah sembarangan. Bahkan ada itu kayak TPS mini jadinya. Itu mini tapi udah menggunung," ucapnya.
Sebelum ada bank sampah, gunungan sampah menimbulkan bau busuk dan mengganggu kesehatan warga.
Bank sampah tak serta merta berdiri. Marini mengawalinya dengan melakukan pendekatan persuasif pada warga hingga mendatangi rumah satu demi satu.
"Edukasi setiap ada pertemuan, door-to-door," katanya.
Sistem getok tular di mana warga yang sudah paham memberikan pemahaman pada warga yang lain diterapkan. Warga yang punya pengaruh sosial juga digandeng untuk menyosialisasikan program ini.
Selama 13 tahun bank sampah ini berjalan, Marini melihat perubahan perilaku masyarakat dalam pemilahan dan pengolahan sampah. Dulunya membuang sampah sembarangan, kini warga justru termotivasi, salah satunya dengan adanya insentif ekonomi dari pengolahan sampah.
Nasabah bank sampah tak selalu mengambil uang hasil dari 'menabung' mereka. Uang kerap dikumpulkan untuk dipakai saat dibutuhkan seperti untuk kebutuhan anak masuk sekolah.
Ada juga uang tabunganya dikonversikan dalam bentuk tabungan emas di Pegadaian.
Marini menyebut warga mampu mengumpulkan sebesar Rp1-2 juta per tahunnya. Namun, ada pula nasabahnya yang mampu mengumpulkan hingga Rp1 juta per bulan dari hasil menabung sampah.
Manfaat juga muncul dengan adanya adanya pemilahan dan pengolahan sampah organik untuk kompos dan maggot. Hasil olahan tersebut dimanfaatkan Marini untuk dukung pertumbuhan tanaman, seperti buah, sayur, singkong, hingga ubi.
Secara rutin, hasil panen tersebut dibagikan kepada warga serta Posyandu.
"Pertama kita bagikan ke warga. Terus akhirnya karena ada posyandu balita karena itu untuk menambah gizi. Setiap ada yang rajin, kita kasih reward dari sayur itu. Ada ikan lele, itu kami kasih untuk reward," ucap Marini.
Figur-figur seperti Marini yang memiliki aksi nyata dalam bidang pengelolaan sampah dan mampu mengajak warga lainnya untuk turut berpartisipasi hendak disorot melalui Pilah Olah Sampah Heroes 2026.
Program ini merupakan upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan apresiasi kepada figur-figur atau pahlawan lingkungan tersebut.
Terdapat dua kategori yang akan dicari pemenangnya yakni Sosok Penggerak dan Pemengaruh atau Influencer/Key Opinon Leader (KOL).
Setelah penyelenggaraan seluruh tahapan seleksi, pemenang dari ajang penghargaan ini baru akan diumumkan di acara penganugerahan pada Selasa (10/11) mendatang. Pemberian penghargaan akan dilakukan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.