Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 12 kelompok industri Korea Selatan (Korsel) memperingatkan bahwa basis produksi drama televisi negara tersebut terancam hancur. Mereka mendesak pemerintah segera menyiapkan dana investasi khusus untuk menyelamatkan industri drama Korea (Drakor).
Mengutip Channel News Asia, Kamis (5/11/2026), dana investasi yang diminta tersebut mencapai 1 triliun won (Rp 13,5 triliun). Dana bantuan jumbo ini dinilai sangat krusial untuk mendukung keberlangsungan dan kelancaran produksi Drakor.
Drakor memang sangat populer secara global, namun jumlah produksinya justru terus merosot. Menurut riset Korea IR Service, jumlah produksi turun drastis dari 141 judul pada 2022 menjadi hanya sekitar 115 judul pada tahun 2025.
Tiga jaringan siaran domestik bahkan memangkas produksi drama dari 91 judul pada tahun 2012 menjadi hanya 32 judul pada tahun 2023. Beberapa saluran televisi bahkan telah sepenuhnya berhenti menayangkan drama di hari kerja.
"Lingkungan seperti itu menyulitkan karya kedua penulis baru, peran utama pertama aktor pendukung, dan debut penyutradaraan anggota kru asisten," papar Ketua Asosiasi Produksi Drama Korea, Song Byeong Joon.
Kelompok yang mewakili produser hingga kru ini mengaitkan penurunan produksi panjang dengan melonjaknya biaya operasional. Hal itu dipicu oleh sengitnya persaingan dengan platform streaming global seperti Netflix di tengah berkurangnya kapasitas investasi lembaga penyiaran lokal.
Mereka juga mengeluhkan ketatnya persaingan dengan konten berdurasi pendek serta kecerdasan buatan (AI). Hal ini berdampak langsung pada sengitnya perebutan perhatian penonton sekaligus mengancam proses produksinya.
Laporan Korea IR Service tahun 2025 mencatat bahwa bayaran untuk bintang papan atas menjadi pendorong utama lonjakan biaya produksi. Gaji para aktor meroket seiring kompetisi ketat antarlayanan streaming demi menarik bakat yang mampu memikat banyak penonton.
Profesor administrasi bisnis di Sun Moon University, Kim Yong-hee, menilai kesulitan yang disebutkan tersebut lebih mencerminkan kemunduran siaran televisi terestrial. Menurutnya, masalah itu tidak merepresentasikan kemunduran sektor industri konten secara keseluruhan.
Data resmi pemerintah turut menunjukkan total lapangan kerja di industri konten justru naik tipis menjadi 693.090 pada tahun 2025. Namun, survei yang sama juga mencatat bahwa lapangan kerja khusus bidang penyiaran memang merosot 2,3% pada tahun 2024.
Sementara itu, juru bicara Netflix Korea yang dihubungi oleh pihak media belum memberikan komentar langsung. Raksasa streaming yang hadir di Korsel sejak 2016 ini sebelumnya telah berjanji pada 2023 untuk menggelontorkan investasi US$ 2,5 miliar (Rp 45 triliun) selama empat tahun.
[Gambas:Video CNBC]