Jakarta, CNBC Indonesia - Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan umum sela yang membuat mereka menguasai Kongres AS rupanya membawa guncangan hebat. Hasil mengejutkan ini seketika memicu rentetan gejolak besar baik di ranah politik domestik maupun konstelasi global.
Mengutip Reuters dan AFP, Kamis (5/11/2026), hasil tersebut membuat Presiden Donald Trump berada di bawah tekanan tajam dari internal Partai Republik. Para sekutu dan ahli strategis secara terbuka mendesak perombakan besar di Gedung Putih hingga perubahan arah kebijakan.
Tuntutan tersebut dilayangkan menyusul kemarahan publik yang menjadi penyebab utama kekalahan kubu Republik dalam pemilu sela ini. Faktor yang disorot publik mencakup perang dengan Iran hingga tingginya harga bahan bakar minyak (BBM).
"Dia perlu membersihkan rumah," tegas Strategis Veteran Republik John Feehery. "Setiap hari dari titik ini ke depan, dia menjadi semakin lemah."
Namun, Trump menolak mentah-mentah tuntutan tersebut dan mengisyaratkan bahwa kekalahan ini bukanlah alasan baginya untuk berganti arah.
"Saya tidak menganggapnya sebagai pukulan bagi saya," ungkapnya.
"Bagi saya itu menenangkan," tuturnya menepis kecaman atas waktunya yang dihabiskan untuk proyek renovasi ruang dansa Gedung Putih.
Gedung Putih Hadapi Guncangan Internal
Dengan kendali penuh di tangan Demokrat, partai oposisi tersebut kini memiliki kekuatan mutlak untuk memblokir legislasi Trump, menyelidiki pemerintahannya, hingga menentang calonnya. Hal ini diprediksi akan mendorong Trump untuk semakin bergantung pada tindakan sepihak.
Di internal Gedung Putih sendiri, para staf senior dilaporkan mulai bersiap menghadapi potensi pengunduran diri staf hingga perombakan kabinet.
"Sangat menyebalkan berada di sini saat ini," ucap seorang pejabat senior Gedung Putih anonim. "Moral sedang serendah-rendahnya."
Pejabat itu juga mengungkapkan bahwa jajak pendapat internal sebenarnya sudah memperingatkan potensi kekalahan enam pekan sebelum pemilu. Namun, Trump tetap keras kepala untuk melanjutkan perang di Iran tanpa memedulikan konsekuensinya.
"Pada akhirnya, dia tidak peduli," kata pejabat anonim tersebut. "Dia menolak mendengarkan siapapun."
Dampak Global: Timur Tengah hingga Ukraina
Kemenangan Demokrat turut membawa dampak luar biasa bagi berbagai urusan luar negeri AS. Kekuasaan Trump yang melemah secara signifikan ini menumbuhkan secercah harapan terkait resolusi damai dalam konflik Iran-Israel.
"Jika Teheran menyadari bahwa Trump butuh kesepakatan, tetapi bukan sembarang kesepakatan, peluang nyata dapat muncul untuk mengakhiri perang," papar Ebtesam al-Ketbi dari Pusat Kebijakan Emirates.
Analis Saxo Bank Ole Hansen menambahkan, "Pasar tampaknya makin bertaruh bahwa Presiden Trump ingin melupakan perang Timur Tengah."
Selain itu, kemenangan Demokrat ini diyakini mampu menjadi pintu masuk bagi usulan pemberian paket bantuan baru yang sempat terhenti ke Ukraina. Kemenangan ini juga memberikan harapan besar terhadap perundingan damai Ukraina dan Rusia yang dimediasi oleh AS.
"Seseorang pada akhirnya butuh persetujuan Kongres untuk tindakan perdagangan dan, sejauh itu, dia (Trump) dilemahkan," tutur Mantan Sekretaris Perdagangan Pemerintah Federal India, Anup Wadhawan, terkait pelemahan otoritas tarif sang presiden.
Nasib Panas Taiwan & Hubungan AS-China
Dampak kemenangan Demokrat juga diproyeksikan akan sangat memengaruhi arah persaingan AS dengan China. Para analis menilai bahwa Kongres yang dikuasai Demokrat dapat membatasi penggunaan tarif secara sewenang-wenang oleh Trump.
"Mereka (Kongres) akan menggunakan setiap kesempatan untuk menggagalkan (kebijakan Trump) selama dua tahun ke depan," ungkap Drew Thompson, Peneliti Senior di Universitas Teknologi Nanyang Singapura.
Kongres akan semakin sulit menekan China apabila hal itu berisiko mengerek biaya operasional bisnis domestik dan meningkatkan potensi konflik. Isu dukungan AS untuk Taiwan juga diprediksi bakal makin menjadi batu sandungan baru usai Trump beberapa kali mencoba menahannya.
"Kongres yang dikuasai Demokrat mungkin memaksa Trump melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan tahun depan," kata Wu Xinbo, Dekan Institut Studi Internasional di Universitas Fudan.
"Jika itu terjadi, itu juga akan merusak stabilitas hubungan AS-China."
Sementara itu, Steve Tsang dari SOAS China Institute memiliki pandangannya sendiri. "Status Trump yang direndahkan menjadi 'bebek lumpuh' akan digunakan oleh China untuk memberikan lebih banyak tekanan kepadanya."
"Namun China tentu juga penuh perhitungan dan tidak akan mau menekan terlalu keras serta memicu Trump bertindak sama sekali tidak bertanggung jawab," pungkasnya.
[Gambas:Video CNBC]