Jakarta (ANTARA) - Menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika tubuh mulai menunjukkan gejala penyakit. Pemeriksaan secara berkala juga dapat membantu seseorang mengetahui kondisi tubuh, mengenali faktor risiko, dan menentukan langkah pencegahan sejak dini.
Dua istilah yang sering digunakan dalam pemeriksaan kesehatan adalah medical check up (MCU) dan skrining kesehatan. Keduanya sama-sama bertujuan mendukung upaya pencegahan penyakit, tetapi memiliki cakupan, sasaran, dan tujuan pemeriksaan yang berbeda.
Secara sederhana, MCU merupakan pemeriksaan kesehatan yang cakupannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan seseorang. Sementara itu, skrining kesehatan merupakan pemeriksaan khusus untuk mendeteksi kemungkinan penyakit atau faktor risiko pada orang yang belum menunjukkan gejala.
Perbedaan tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak menganggap semua pemeriksaan kesehatan memiliki tujuan yang sama. Lantas, apa perbedaan medical check up dan skrining kesehatan, serta kapan seseorang perlu melakukannya?
1. Apa itu medical check up?
Medical check up atau MCU merupakan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih menyeluruh. Pemeriksaan ini umumnya diawali dengan wawancara medis mengenai riwayat kesehatan, kebiasaan sehari-hari, riwayat penyakit keluarga, dan keluhan yang dirasakan.
Setelah itu, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan menyarankan tes tambahan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan tersebut dapat mencakup pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan, pemeriksaan darah, kadar kolesterol, gula darah, hingga pemeriksaan fungsi organ tertentu.
Namun, tidak semua orang membutuhkan jenis pemeriksaan yang sama. Dokter akan mempertimbangkan usia, jenis kelamin, riwayat kesehatan, faktor risiko, serta kondisi masing-masing pasien sebelum menentukan tes yang diperlukan.
Sebagai contoh, seseorang dengan riwayat diabetes dalam keluarga mungkin membutuhkan perhatian lebih terhadap pemeriksaan gula darah. Sementara itu, orang dengan keluhan tertentu dapat memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebabnya.
Dengan demikian, MCU tidak selalu berarti menjalani seluruh jenis tes laboratorium dan pemindaian tubuh. Pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan medis agar hasilnya bermanfaat.
2. Apa itu skrining kesehatan?
Skrining kesehatan merupakan pemeriksaan yang ditujukan untuk menemukan kemungkinan adanya penyakit atau faktor risiko pada seseorang yang belum menunjukkan gejala.
Tujuannya adalah mengenali kondisi kesehatan sejak dini sehingga seseorang dapat memperoleh pemeriksaan lanjutan atau penanganan yang sesuai sebelum penyakit berkembang lebih jauh.
Berbeda dengan pemeriksaan untuk mencari penyebab keluhan, skrining biasanya dilakukan terhadap kelompok orang tertentu berdasarkan usia, jenis kelamin, atau faktor risiko.
Beberapa contoh skrining kesehatan antara lain:
1. Skrining tekanan darah, untuk mengetahui kemungkinan hipertensi pada seseorang yang belum merasakan gejala.
2. Skrining diabetes, melalui pemeriksaan kadar gula darah pada kelompok yang memiliki faktor risiko tertentu.
3. Skrining kanker serviks, menggunakan metode seperti tes HPV atau Pap smear sesuai rekomendasi medis.
4. Skrining kanker payudara, salah satunya menggunakan pemeriksaan mammografi pada kelompok usia dan risiko tertentu.
5. Skrining kanker kolorektal, melalui pemeriksaan tertentu untuk mendeteksi kemungkinan kanker atau kelainan pada usus besar.
Jenis dan waktu pelaksanaan skrining tidak sama untuk setiap orang. Sebagai contoh, program NHS Health Check di Inggris ditujukan bagi orang berusia 40 hingga 74 tahun tanpa sejumlah penyakit tertentu untuk menilai risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, dan penyakit ginjal.
3. Perbedaan medical check up dan skrining kesehatan
Meskipun sama-sama berkaitan dengan pencegahan penyakit, terdapat beberapa perbedaan mendasar antara MCU dan skrining kesehatan.
Pertama, dari segi tujuan.
MCU bertujuan memberikan gambaran kondisi kesehatan seseorang melalui penilaian riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan tes tambahan yang diperlukan. Sementara itu, skrining secara khusus bertujuan mendeteksi kemungkinan penyakit atau faktor risiko pada orang yang belum mengalami gejala.
Kedua, dari segi cakupan pemeriksaan.
MCU dapat mencakup beberapa aspek kesehatan sekaligus, bergantung pada paket pemeriksaan dan kebutuhan pasien. Skrining lebih terarah pada penyakit atau kondisi tertentu, misalnya hipertensi, diabetes, atau kanker serviks.
Ketiga, dari segi sasaran pemeriksaan.
MCU dapat dilakukan oleh orang yang ingin mengetahui kondisi kesehatannya, baik yang memiliki keluhan maupun tidak. Skrining umumnya ditujukan kepada orang yang belum menunjukkan gejala, tetapi memiliki usia atau faktor risiko tertentu.
Keempat, dari segi tindak lanjut.
Hasil MCU dapat menjadi dasar bagi dokter untuk memberikan saran kesehatan atau merekomendasikan pemeriksaan lanjutan. Sementara itu, hasil skrining yang menunjukkan kemungkinan adanya penyakit perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan diagnostik.
Artinya, hasil skrining yang positif belum tentu menunjukkan seseorang telah mengidap penyakit. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
4. Mana yang lebih penting, medical check up atau skrining?
MCU dan skrining kesehatan tidak harus dipertentangkan karena keduanya dapat saling melengkapi. Pilihan pemeriksaan bergantung pada kebutuhan, kondisi kesehatan, usia, serta faktor risiko seseorang.
Jika seseorang ingin mengetahui gambaran umum kondisi kesehatannya, konsultasi dan pemeriksaan berkala dapat menjadi langkah awal. Dokter kemudian dapat menentukan apakah diperlukan tes laboratorium, pemeriksaan fisik tambahan, atau skrining penyakit tertentu.
Sementara itu, seseorang yang tidak memiliki keluhan tetap perlu memperhatikan rekomendasi skrining berdasarkan usia dan faktor risikonya. Tidak semua penyakit menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga pemeriksaan terarah dapat membantu menemukan kemungkinan masalah kesehatan lebih dini.
Meski demikian, menjalani sebanyak mungkin pemeriksaan bukan berarti selalu lebih baik. Skrining yang tidak sesuai indikasi dapat menghasilkan temuan positif palsu, yaitu hasil yang mengindikasikan kemungkinan penyakit meskipun seseorang sebenarnya tidak mengalaminya.
Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan dan pemeriksaan tambahan yang belum tentu diperlukan. Karena itu, pemilihan tes sebaiknya didasarkan pada bukti ilmiah dan konsultasi dengan tenaga medis.
5. Kapan sebaiknya melakukan medical check up dan skrining?
Tidak ada satu jadwal pemeriksaan yang berlaku untuk semua orang. Frekuensi dan jenis pemeriksaan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan antara lain:
- Usia: kebutuhan skrining dapat berubah seiring bertambahnya usia.
- Riwayat penyakit keluarga: riwayat penyakit tertentu dapat meningkatkan risiko sehingga pemeriksaan mungkin perlu dilakukan lebih awal.
- Pola hidup: kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan, dan konsumsi alkohol dapat menjadi pertimbangan dalam penilaian risiko.
- Kondisi kesehatan: orang dengan penyakit kronis membutuhkan pemantauan sesuai arahan dokter.
- Keluhan yang muncul: jika mengalami gejala seperti nyeri berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab, atau mudah lelah secara tidak biasa, sebaiknya berkonsultasi untuk pemeriksaan diagnostik, bukan hanya mengandalkan skrining.
Pemeriksaan kesehatan tahunan juga tidak otomatis mengharuskan seseorang menjalani seluruh tes darah, pemindaian, atau pemeriksaan organ. Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal JAMA pada 2021 membahas bahwa manfaat pemeriksaan kesehatan umum perlu dilihat berdasarkan jenis pemeriksaan dan kebutuhan pasien. Pemeriksaan yang tidak terarah berisiko menimbulkan tes lanjutan yang tidak diperlukan.
Medical check up dan skrining kesehatan memiliki tujuan yang saling berkaitan, tetapi tidak sepenuhnya sama. MCU memberikan gambaran kondisi kesehatan seseorang melalui pemeriksaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan skrining berfokus pada deteksi dini penyakit atau faktor risiko pada orang yang belum menunjukkan gejala.
Keduanya dapat membantu seseorang mengambil langkah pencegahan dan memperoleh penanganan lebih tepat. Namun, jenis pemeriksaan sebaiknya tidak dipilih hanya berdasarkan banyaknya tes atau paket yang ditawarkan.
Berkonsultasi dengan dokter menjadi langkah penting untuk menentukan pemeriksaan yang sesuai dengan usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko. Dengan begitu, pemeriksaan kesehatan dapat memberikan manfaat tanpa menimbulkan tes tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan.