Nasional

950 Ribu Warga Gaza Terancam Banjir Musim Dingin

950 Ribu Warga Gaza Terancam Banjir Musim Dingin

GAZA — Ancaman bencana kemanusiaan kembali membayangi Jalur Gaza menjelang musim dingin. Hampir 950 ribu warga Palestina yang mengungsi kini tinggal di kawasan dengan risiko banjir sedang hingga tinggi. 

Kondisi tersebut diperparah oleh pembatasan Israel terhadap masuknya bahan-bahan untuk membangun tempat penampungan dan memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat perang.

Badan Pertahanan Sipil Palestina di Gaza memperingatkan hujan lebat dan angin kencang yang diperkirakan melanda wilayah tersebut pada Jumat (6/11/2026) dapat membahayakan warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian maupun bangunan yang rusak akibat serangan militer Israel.

Mengutip laporan Palestine Chronicle, ancaman banjir tersebut bukan sekadar persoalan cuaca. Kerusakan infrastruktur drainase, keterbatasan tempat penampungan yang layak, serta hambatan masuknya bantuan kemanusiaan membuat ratusan ribu keluarga Palestina semakin rentan menghadapi musim hujan.

Berdasarkan data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang dirilis 15 Oktober, sekitar 950 ribu pengungsi Palestina tinggal di lokasi dengan risiko banjir sedang hingga tinggi. Dari jumlah tersebut, lebih dari 400 ribu orang menghadapi risiko banjir tinggi.

Selain ancaman banjir, sekitar 44 ribu warga Palestina terpaksa berlindung di lebih dari 2.300 bangunan yang secara struktural dinilai tidak aman. Bangunan-bangunan tersebut berisiko mengalami keruntuhan, terutama ketika diterjang hujan deras dan angin kencang.

OCHA juga memperkirakan sebanyak 294.250 keluarga membutuhkan bantuan tempat penampungan menjelang musim hujan.

Krisis tersebut semakin pelik karena Israel membatasi masuknya sejumlah barang yang dibutuhkan untuk membangun dan memperbaiki tempat penampungan. Material seperti tenda, terpal, kayu, semen, peralatan konstruksi, tali, hingga perlengkapan perbaikan lainnya dikategorikan Israel sebagai barang dwifungsi (dual-use).

Kategori tersebut memungkinkan Israel membatasi atau menghambat masuknya barang-barang yang dianggap dapat digunakan untuk kepentingan militer.

Laporan Norwegian Refugee Council (NRC) pada 5 Oktober 2026 mengungkapkan, Israel hanya mengizinkan sekitar 15 truk pengangkut barang kategori dwifungsi masuk dari Yordania setiap pekan. Jumlah tersebut harus memenuhi kebutuhan berbagai sektor kemanusiaan di Gaza.